December 2010
18 posts
Sedih melihat Indonesia malam ini.
Beach House - D.A.R.L.I.N.G.
My Bloody Valentine - What You Want
Sebuah almamater sepertiya semakin populer akhir-akhir ini. Masuk koran, televisi, blog-blog amatir, sampai forum-forum online. Pemicunya awalnya siapa lagi kalau bukan Gayus Tambunan. PNS kaya raya yang bebas berkeliaran dengan uangnya. Dan apesnya, almamater kami sama.
Sudah dipastikan, komentar-komentar pedas sampai cacian akan berterbangan. Dan sayapun berhasil menemukan dan membaca beberapa. Mulai dari tulisan orang awam sampai pernyataan seorang mantan menteri.
Saya akui, banyak orang-orang kritis dan latah di luar sana. Mereka selalu berkomentar dengan lantang dan keras dengan harapan didengar dan dibaca. Menyalahkan, merasa diri sendiri benar. Korban dari doktrin media. Melihat apa adanya, tetapi merasa tahu segalanya.
Sebuah almamaterpun menjadi kambing hitam. Ya, semua orang mencoba menyalahkan sebuah almamater. Sebuah objek yang tidak bisa makan apalagi berpikir.Lalu kenapa disalahkan?
Pendidikan dimana-mana itu sama. Di kampus ini, kampus itu dan yang lain semua sama. Semua memiliki tujuan satu, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Kalau hasil setelah wisuda adalah orang-orang semacam “mereka”, maka almamater tidak bertanggung jawab. Karena hal itu kembali ke masing-masing individu. Jadi apa seseorang bargantung pada dirinya, bukan pada almamater yang dipakainya.
Kontroversi berawal dari media, pada saat berita Gayus mencuat mereka yang mulai mengungkit-ungkit masalah almamater. Kenapa tidak pada kasus-kasus korupsi sebelumnya. Koruptor-koruptor sebelumnya berasal dari berbagai almamater yang berbeda. Kenapa tidak diungkit-ungkit?
Mereka menyuap, mereka korupsi tidak ada hubungan dengan almamater. Apakah almamater mengajarkan? tidak ada! Tidak ada satupun almamater yang mengajarkan hal itu. Jadi, STOP menyalahkan sebuah almamater.
Kita boleh saja merasa diri kita paling suci dan paling benar. Tapi kalau sampai merasa orang lain salah, maka sama saja dengan sampah.